Henry memulai karirnya di level junior
bersama CO Les Ulis pada tahun 1983. Dia sempat pindah klub beberapa kali yaitu
ke USPalaiseau (1989), Viry-Chatillon (1990), Clairefontaine (1992) dan AS Monaco
(1994). Pada tahun 1994, dia memulai debutnya di tim senior bersama AS Monaco.
Hingga tahun 1999, Henry mencetak 20 gol dari 105 penampilannya sebagai pemain
sayap bersama AS Monaco. Performa gemilangnya dilirik oleh Juventus yang
akhirnya berhasil mendatangkannya pada tahun 1999.
Pada awalnya, publik Turin sangat
menyambut kedatangan pemain Perancis ini, namun ternyata ia tidak tampil sebaik
yang diharapkan. Henry hanya mencetak 3 gol dari 16 penampilan bersama
Juventus. Manajemen tim asal Turin tersebut kurang puas dengan penampilannya
selama satu tahun itu yang berbuntut dijualnya Henry ke salah satu tim asal
London, yaitu Arsenal.
Manajer Arsenal saat itu, Arsene Wenger
sangat jeli melihat bakat dari Thierry Henry. Wenger kembali menempatkan Henry
sebagai penyerang. Sempat tidak bisa mencetak gol pada delapan laga awalnya,
Henry akhirnya bisa menemukan ketajamannya dengan mencetak 26 gol pada musim
1999/2000. Saat itu Arsenal menempati posisi ke dua di liga Inggris dibelakang
Manchester United.
Di musim keduanya bersama Arsenal, Henry
sukses menjadi pencetak gol terbanyak di musim itu. Namun kembali dia gagal
mengantarkan tim kebanggaan London Utara itu untuk meraih titel liga Inggris.
Saat itu Arsenal kembali menempati peringkat kedua dibelakang Manchester
United.
Musim
2001/2002 merupakan salah satu musim terbaik Henry. Dengan menjadi pencetak gol
terbanyak dengan 32 gol, ia sukses membawa Arsenal meraih titel liga Inggris
serta menjuarai Piala FA setelah mengalahkan Chelsea 2-0.
Di musim selanjutnya, Henry sukses
mencetak 42 gol. Namun, ia kalah dengan Ruud van Nisterlooy yang saat itu
berhasil mencetak 43 gol selama satu musim. Meskipun tidak menjadi pencetak gol
terbanyak liga Inggris, namun pada akhir musim ia berhasil mendapatkan
penghargaan PFA Players’ Player of The
Year dan Football Writer’s Ssociation
Footballer of the Year. Di tahun 2003 ia juga berhasil mendapat pengakuan
sebagai pemain terbaik dunia, yaitu dengan mendapatkan penghargaan FIFA Ballon D’Or.
Pada tahun 2007, Henry akhirnya
meninggalkan Arsenal dengan status pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan
174 gol selama berseragam Arsenal. Ia mendapat julukan King of Highbury oleh para
fans Arsenal sebelum kepergiannya. Ia pun bergabung dengan raksasa Spanyol,
yaitu Barcelona.
Bersama tim yang bermarkas di Camp Nou
tersebut, Henry berhasil meraih titel tertinggi di Eropa yaitu UEFA Champions League pada musim
2008/2009. Kombinasi Thierry Henry, Lionel Messi dan Samuel Eto’o berhasil
mencetak total 100 gol dalam semusim. Di tahun 2009 juga, Henry berhasil
membantu Barcelona meraih lima gelar yang belum pernah diraih, yaitu Supercopa
de Espana, Piala Super UEFA, dan FIFA
Club World Cup.
Henry meninggalkan Spanyol pada tahun
2010 dan berlabuh di Amerika bersama salah satu klub Major League Soccer yaitu New York Red Bulls. Masa keemasannya
tidak meredup bersama klub asal New York itu. Mencetak 41 gol dari 92
penampilan di usia yang sudah tidak muda lagi jelas tidak mudah, namun Henry
berhasil membuktikannya sampai saat ini.
Fawwaz
Naufal Azhar
@fawwazhar